Pondok Pesantren Salafi

Istilah pesantren secara etimologis berasal dari kata “santri” dan mendapat awalan “pe” serta akhiran “an” yang memiliki arti tempat tinggal bagi santri. Pesantren adalah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam. Pesantren menjadi tempat berlangsungnya proses belajar dan mengajar sekaligus pusat pengembangan jama’ah masyarakat pemukiman.
Lembaga Research Islam mendefinisikan pesantren sebagai suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam menerima pelajaran-pelajaran agama Islam sekaligus tempat berkumpul dan tempat tinggalnya (Qomar, 2002: 2).
Secara garis besar, pesantren memiliki lima elemen yang menjadi syarat pokok berdirinya, yaitu: Kiai, Santri yang bermukim atau menginap, Masjid/Surau/Mushalla, Pondok atau asrama untuk santri, dan Pengajaran kitab-kitab Islam klasik.

Pengertian Pesantren Salafi

Pesantren salafiyah merupakan pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan dan pembelajarannya.
Pondok pesantren salafiyah (klasik) adalah pesantren yang penyelenggaraan pendidikannya menggunakan pendekatan tradisional dan menjadikan kitab-kitab agama Islam (dirasah al-islamiyyah) karya ulama-ulama salaf sebagai sumber pembelajaran.
Oleh karena itu, pondok pesantren salafi (salafiyah) juga sering disebut dengan pondok pesantren klasik atau tradisional. Sistem sorogan (bahasa jawa yang berarti menyodorkan) dipakai dan diterapkan dalam lembaga-lembaga pengajian (madrasah), tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.

Karakteristik Pesantren Salafi

Merujuk pada pengertian di atas, maka banyak yang menyebut pesantren salafi sebagai pesantren tradisional. Adapun ciri khas pondok pesantren salafiyah atau tradisional adalah sebagai berikut:
  1. Terikat pada figur kyiai,
  2. Pengajaran bersifat satu arah,
  3. Pola dan sistem bersifat konvensional berpijak pada tradisi lama,
  4. Pada umumnya tidak memiliki manajemen dan administrasi modern,
  5. Bangunan asramanya kurang tertata rapi serta masih menggunakan desain kuno,
  6. Sistem pengelolaan berpusat pada aturan yang dibuat kiyai dan diterjemahkan oleh pengurus pondok.
Selain ciri khas tersebut, pondok pesantren salafiyah juga memiliki karakteristik unik yang diantaranya:
  • Berlaku sistem halaqah,
  • Intensifikasi pada musyawarah atau bahtsul masa’il,
  • Pengajian hanya terbatas pada kitab-kitab kuning (klasik),
  • Pakaian, tempat, dan lingkungannya mencerminkan masa lalu,
  • Kultur paradigma berpikiran didominasi oleh term-term klasik.
Meski bersifat tradisional, ada beberapa kelebihan dari kultur pondok pesantren salafi yang membuat tetap bertahan dan masih banyak diminati, diantaranya:
  1. Gaya dan pola hidup dengan kesederhanaan;
  2. Mental kemandirian dan semangat hidup yang tinggi;
  3. Terjaga moralitas dan mentalitas dari virus modernitas;
  4. Mampu menciptakan insan yang jiwa enterpreneurship (kewirausahaan) meski tanpa ijazah formal.

C. Kurikulum Pondok Pesantren Salafiyah

Ditinjau dari materi pembelajaran yang diberikan oleh pengasuh atau kyainya, kurikulum pesantren salafiyah terdiri dari pelajaran yang berkisar pada ilmu pengetahuan agama. Terutama pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan:
  1. Bahasa Arab (‘ilmu al-sharaf, al-nahwu dan ‘ilmu al-alat lainya);
  2. Syari’at (‘ilmu fiqih, dari yang menyangkut hal ibadat sampai pada hal mu’amalat);
  3. Al-qur’an serta tafsir-tafsirnya;
  4. Al-hadits beserta mustalah al-hadits;
  5. Al-kalam;
  6. Al-tauhid;
  7. Mantiq (logika);
  8. Tasawwuf dan tarikh.

1. Metode Pembelajaran Pondok Pesantren Salafiyah

Pada pondok pesantren salafiyah, metode pembelajaran yang digunakan cukup bervariasi dan dalam penerapannya memiliki perbedaan antara satu pesantren dengan pesantren lainnya. Berikut beberapa metode pembelajaran di pondok pesantren salafi:

a) Mencatat dan Menghafal

Metode mencatat dan menghafal sudah diterapkan kepada para santri sejak awal berada di pesantren salafi. Rutinitas ini akan dijalani para santri sebagai bagian dari proses pembelajaran sepanjang hari. Jika di pagi hari santri mencatat materi pembelajaran, maka sorenya mereka mengahfalkannya di depan ustadz sebelum melanjutkan ke materi berikutnya. Begitu pula sebaliknya, jika sore hari mencatat, maka paginya menghafal.
Santri diwajibkan mencatat materi yang disampaikan ustadz atau kiyai dengan tujuan agar kemampuan menulis huruf hijaiyah (tulisan arab) santri bertambah baik. Melalui kegiatan mencatat, santri di pondok salafi juga akan mudah mengingat dan menghafalkan materi.
Pada metode ini, terkadang santri mengabaikan pemahaman terhadap materi yang mereka hafal. Akibatnya, kurang motivasi dan menghambat proses hafalan santri karena tidak faham serta tidak mengerti tentang apa yang mereka hafal.

b) Kaji Duduk

Istilah kaji duduk digunakan oleh masyarakat Kalimantan Selatan untuk menyebut metode pembelajaran yang diterapkan pada pondok pesantren salafiyah.
Kaji duduk merupakan upaya menciptakan suasana pembelajaran (mengkaji) sambil duduk di lantai tanpa menggunakan kursi ataupun bangku seperti di kelas formal.
Dua istilah terkenal tentang metode pembelajaran yang diterapkan pada pondok pesantren salafi, diantaranya:
  1. Sorogan yang disebut juga dengan sistem individual (individual learning);
  2. Bandungan (Sunda; di Jawa dikenal dengan istilah bandongan atau wetonan) yang juga disebut dengan sistem kolektif (collectival Learning atau together learning).

2. Sistem Evaluasi Pembelajaran di Pesantren Salafiyah

Evaluasi pembelajaran pada pondok pesantren salafiyah dilakukan oleh ustazd kepada para santri setiap selesai mempelajari suatu mata pelajaran.
Pada tahapan ini, evaluasi hanya digunakan untuk mengukur kemampuan santri yang dinyatakan layak atau tidak untuk naik ke kitab selanjutnya.
Adapun sistem evaluasi yang diterapkan pada pondok pesantren salafi biasanya dilakukan dengan dua metode, yaitu:
  1. Metode test, yaitu suatu cara penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan oleh santri dalam bentuk ujian tulis meliputi; essay, multiple choice (pilihan ganda), maching (menjodohkan), maupun completation (melengkapi). Selain tertulis, ustadz ataupun ustadzah juga menerapkan metode tes lisan seperti; hafalan, praktek, maupun penugasan (sesuai dengan kebijakan para pengampunya).
  2. Metode non-test dilakukan dalam bentuk observasi dengan tujuan agar para santri mampu mempraktekan ilmu yang sudah dikaji. Observasi yang dilakukan dilengkapi dengan instrumen dan dibantu para pengasuh pondok.
Hingga saat ini, evaluasi yang dilakukan pada santri di pondok pesantren salafi masih belum dioptimalkan fungsi lainnya. Evaluasi belum diterapkan secara maksimal untuk mengetahui efektivitas pembelajaran ataupun sebagai bagian dari proses perbaikan metode pembelajaran bagi uztad ataupun uztadzah.

3. Program/Kegiatan Ekstra Kurikuler

Kurikulum pesantren salafiyah juga meliputi kegiatan ekstrakurikuler sebagai upaya menciptakan pengalaman dari pembelajaran intrakulikuler yang menjadi tanggung jawab pondok.

Kegiatan ekstra kurikuler di pondok pesantren salafi merupakan kegiatan pembelajaran dilakukan di luar jam pelajaran dengan tujuan:
  • Memperluas wawasan,
  • Peningkatan dan penerapan nilai pengetahuan serta kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran.
Santri pada pondok pesantren salafiyah biasanya mendapat fasilitas dan kesempatan untuk mengikuti Program/Kegiatan Ekstra Kurikuler dalam berbagai pilihan, seperti;
  1. Pengajian kitab di mushalla atau di rumah ustadz;
  2. Kursus bahasa asing;
  3. Muhadharah;
  4. Pembacaan syair-syair maulid;
  5. Tahfizh al-Quran dan seni baca al-Quran;
  6. Seni khat dan kaligrafi;
  7. Kegiatan Kesenian yang meliputi: Seni Musik, Seni bela diri, olahraga, dan lain-lain.

4. Kurikulum Tersembunyi Pondok Pesantren Salafi

Kurikulum tersembunyi merupakan segala kegiatan atau aktifitas yang tidak terstruktur atau tidak dirancang dalam kurikulum, namun berlaku di tempat pertemuan pembelajaran. Kurikulum tersembunyi pesantren salafiyah terjadi di lingkungan pondok sebgaiai tempat pembelajaran seperti mushalla, asrama, kantin, dan perpustakaan.

Kurikulum tersembunyi atau “hidden curriculum” pada pondok pesantren salafi dapat digambarkan sebagai berikut:
  1. Pendidikan Spritual, dilaksanakan dalam bentuk shalat wajib berjamaah, pembacaan Al-Quran dan surat-surat tertentu (Yasin, Al-Waqi’ah, Al-Muluk), pembacaan wirid-dzikir-tahlil, bershalawat, pembacaan burdah, dalailul khairat, ratib-ratib, dan puasa-puasa sunat.
  2. Pendidikan disiplin, dengan menerapkan aturan pesantren secara ketat dan disertai dengan sanksi bagi santri agar taat peraturan serta tercipta ketertiban di pondok.
  3. Pendidikan kebersihan dan kesehatan, kegiatannya berupa kerja bakti membersihkan asrama, kebun atau pekarangan, dan lingkungan pondok secara gotong royong atau bergiliran yang jadwalnya diatur oleh organisasi santri.
Selain itu, masih banyak lagi pendidikan-pendidikan lainnya dari kurikulum tersembunyi, seperti; Pendidikan kebersamaan, toleransi, kemandirian, kepemimpinan, dan lain-lain.

Dokumen Presiden Soeharto Mengunjungi Pesantren Salafi

Demikian ulasan mengenai pondok pesantren salafi yang diolah dari berbagai sumber dengan referensi utama:
  • https://www.scribd.com/doc/258854989/kurikulum-pondok-pesantren-salapi-pdf
  • http://wahyudin-noor.blogspot.com/2016/12/kurikulum-pesantren-salafiyah.html
Semoga bisa menjadi literatur yang bermanfaat...

Subscribe to receive free email updates:

Kunjungi Artikel Matsan Saga Lainnya :

0 Response to "Pondok Pesantren Salafi"

Post a Comment

If this article helpful, please share it...
We are waiting for your polite comments for our good ...