Kurikulum Pondok Pesantren Salafi dalam Pembelajaran Bahasa Arab

Pesantren dalam beberapa literatur disebutkan sebagai lembaga pendidikan yang memiliki tujuan untuk tafaqquh iddin (memahai agama) dan membentuk moralitas umat. Oleh karena itu, kurikulum pondok pesantren didominasi dengan pembelajaran yang bersifat islami.

A. Pondok Pesantren Salafi dan Kitab Kuning

Pembelajaran pada pondok pesantren salaf menjadikan Kitab Kuning karya ulama terdahulu pada abad pertengahan sebagai referensi.
Pada umumnya Kitab Kuning dikonotasikan dengan kitab-kitab klasik yang disusun oleh para ulama dari timur tengah, dan ditulis sebelum abad ketujuh belas. 
Tentang penamaannya, jika dilihat dari aspek kondisi riil kitab-kitab tersebut dicetak secara sederhana menggunakan kertas berwarna kuning.

Adapun proses pembelajaran di pondok pesantren menjadikan Bahasa Arab sebagai mata pelajaran utama sekaligus media pengantar. Kurikulum pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren salaf dapat digambarkan dalam beberapa poin, diantaranya sebagai berikut:

1. Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Salafi

Hingga saat ini, pesantren pada umumnya memiliki tujuan pokok untuk mengajarkan agama dan mencetak pribadi muslim yang kaffah serta mampu melaksanakan ajaran Islam secara konsisten dalam kehidupan sehari.

Konsep ini merupakan tujuan pokok atau utama yang melatarbelakangi pendirian pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional untuk menjaga tradisi ulama’ salaf as-shahih dengan teguh.

2. Teknik Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Salafi

Metode atau teknik pembelajaran bahasa Arab di pesantren tipe salafi berkaitan erat dengan tipologi yang terkandung dalam ciri khas atau karakteristik pondok pesantren itu sendiri. Adapun metode metode pembelajaran di pondok pesantren salaf sering disebut dengan sistem tradisional.

Beberapa metode yang digunakan dalam mengkaji Kitab Kuning di pondok pesantren salafi, diantaranya:

1. Metode Sorogan

Metode sorogan merupakan sistem pembelajaran yang dilakukan dengan cara santri membaca kitab secara individual. Pada metode ini seorang murid atau santri nyorog (menghadap kepada guru atau ustad) secara bergiliran untuk diajari beberapa bagian dari kitab. Kemudian ustad/ustadzah atau guru membaca kitab dan santri atau murid menirukannya beberapa kali dengan tepat.
Metode pembelajaran sorogan dilaksanakan dengan cara santri membaca kitab di depan kiyai. Jika ada kesalahan, maka akan segera dievaluasi dan diarahkan oleh sang kyai agar lebih tepat. Metode sorogan dilakukan oleh santri yang memiliki kemampuan lebih, di sinilah seorang santri bisa dilihat kemahirannya dalam membaca kitab kuning dan menafsirkannya.
Penerapan pembelajaran dengan metode sorogan dilakukan seorang santri secara bergantian mendatangi guru yang akan membacakan kitab berbahasa Arab dan menerjemahkannya. Kemudian santri mengikuti, mengulangi, dan menerjemahkan kata demi kata (word by word) seperti yang diucapkan oleh uztad atau gurunya. Bisa juga santri langsung membaca suatu kitab di hadapan kiyai, kemudian jika terjadi kesalahan, sang kiyai langsung membetulkannya.

Kurikulum Pondok Pesantren Salafi

Metode sorogan membutuhkan banyak waktu sehingga lebih efektif jika diterapkan untuk santri tahap muntahi (yang sudah lama) serta dengan jumlah kelompok belajar yang tidak banyak.

2. Metode Wetonan

Metode pembelajaran wetonan dilaksanakan dengan cara kyai membaca dan santri menyimak kitab yang sama sambil mendengarkan bacaan kyai. Pada beberapa daerah, metode wetonan juga disebut dengan sistem bandungan.
Metode wetonan adalah proses belajar mengajar atau sistem transfer keilmuan di mana kyai atau ustadz membacakan kitab, menerjemah, dan menerangkan kepada sekelompok santri. Sedangkan santri atau murid mendengarkan, menyimak, serta mencatat apa yang disampaikan oleh kyai.
Kelompok kelas dari sistem wetonan ini disebut halaqoh yang dapat diartikan sebagai murid atau santri yang belajar dibawah bimbingan seorang guru atau kyai. Pada sistem wetonan dapat juga diterapkan metode-metode pembelajaran lainnya, seperti: ceramah, terjemah, tanya jawab, muzakarah (bahtsul masail).

3. Metode Bandongan

Metode pembelajaran yang serangkaian dengan metode serogan dan wetonan adalah bendongan yang saling kait mengkait dengan metode sebelumnya, metode pembelajaran ini berlangsung semata-mata tergantung pada kyai, sebab segala sesuatu yang berhubungan waktu tempat dan materi pembelajaran (kurikulum)-nya terletak pada kyai atau ustadzahnya.

4. Metode Muhawarah

Muhawarah merupakan suatu kegiatan berlatih mengucapkan bahasa arab yang dilakukan oleh santri selama mereka tinggal di pondok pesantren. Latihan muhawarah atau muhadathah dilaksanakan dengan intensitas satu atau dua kali dalam seminggu digabung dengan muhadarah kitabah dengan tujuan melatih teknik pidato santri.

5. Metode Mudzakarah

Mudzakarah atau munazarah, atau bath al-masail adalah suatu pertemuan ilmiah yang didalamnya membahas masalah-masalah aktual keagamaan. Pada saat mudzakarah inilah santri menguji keterampilannya dengan mengutip sumber-sumber argumentasi berdasarkan kitab klasik.

6. Majlis Ta’lim

Majlis ta’lim adalah media penyampaian ajaran agama islam yang yang bersifat umum dan terbuka. Jamaah atau peserta yang mengikutinya terdiri dari berbagai unsur lapisan masyarakat dengan latar belakang pengetahuan yang beragam serta tidak dibatasi tingkat usia maupun gender.

Jenis metode pembelajaran pondok pesantren tersebut yang tepat untuk diimplementasikan pada pembelajaran bahasa Arab yaitu metode dari nomor satu sampai nomor lima. Sedangkan Majelis Ta'lim lebih mengarah di dalam menyampaikan ilmu-ilmu agama dan diperuntukkan untuk umum tanpa adanya batasan.

Metode pembelajaran, khusunya Bahasa Arab, berkisar pada metode-metode di atas dan lebih ditekankan mata mata pelajaran (gramatika). Hal ini sesuai dengan tujuan yang tertanam dalam pondok pesantren tersebut yaitu agar siswa mampu memahmi kitab kuning (kutubut tuaras).

3. Isi/Materi Kurikulum Bahasa Arab di Pondok Pesantren Salaf

Komponen isi atau materi kurikulum pembelajaran Bahasa Arab berupa materi bidang-bidang studi. Pada kurikulum pembelajaran bahasa Arab di pesantren salafi, isi atau materi biasanya lebih banyak diajarkan kitab-kitab klasik (kitab kuning).
Adapun materi pembelajaran bahasa Arab di pondok pesantren salaf lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab (qawaid dan Sharaf). Hal ini disebabkan karena tujuan pembelajaran di pondok pesantren salaf lebih ditekankan untuk memahami teks-teks klasik (kitab kuning).
Pembelajaran bahasa arab dianggap hanya sebagai jalan untuk memahami teks teks Kutabut Turats (kitab klasik atau kitab kuning).

4. Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Pesantren Salaf

Evalasi pembelajaran bahasa Arab adalah kegiatan menilai kemampuan peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Evaluasi pembelajaran bahasa arab pada pesantren salafi dilakukan cukup sederhana.

Evaluasi hasil belajar di pondok pesantren salaf yang mengedepankan pada target pemahaman kitab kuning mempunyai target setidaknya santri menguasai empat sisi yaitu:
  1. Fathul masmu’ yaitu para santri harus menguasai apa yang didengar;
  2. Fathul maqru’ yaitu para santri harus memahami teks kitab kuning yang dibaca;
  3. Ta’bir Syapahi, yaitu para santri harus mampu menyampaikan pikiran dalam bahasa arab secara lisan dimana orang arab mampu memahami apa yang diucapkan;
  4. Ta’bir tahriri, yaitu para santri harus mampu menyampaikan pikiran dengan bahasa arab dalam bentuk tulisan.
Berangkat dari bentuk-bentuk penguasaan santri terhadap empat sisi tersebut, maka bentuk evaluasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat penguasaan santri adalah melalui beberapa tipe, yaitu:
  1. Model Tahriri atau tes membaca dan menerjemahkan kitab kuning dilakukan oleh santri di hadapan kyai secara individual dan bergantian;
  2. Model Syafahi (tes lisan) yang dilakukan oleh kyai dengan memberikan pertanyaan kepada santrinya dan biasanya diakhir semester diadakan imtihan (ter tertulis).

B. Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum Pesantren Salafi

Kurikulum dan sistem pembelajaran tradisional yang diterapkan pada pondok pesantren salafi mengandung kelemahan dan kelebihan.

1. Kelebihan Kurikulum Pesantren Salafi

Kurikulum bahasa Arab tradisonal pada pondok pesantren salafi mempunyai kelebihan dalam metode memahami teks dan penguasaan translasi atau penerjemahan. Hal ini dipengaruhi oleh kedisiplinan untuk memegang gramatika (nahwu dan sharf) yang diimplementasikan ke dalam penerjemahan kitab-kitab klasik.

2. Kekurangan Kurikulum Pesantren Salafi

Bahasa Arab dalam metode tradisional pada pondok pesantren salafi mempunyai kelemahan pada sisi praktek kebahasaan (komunikasi) secara verbal. Model pembelajaran ini masih dalam taraf penguasaan dan pembentukan pola kemampuan kebahasaan pasif.

Pada konteks ini biasanya pesantren memiliki kelemahan mendasar pada visi dan tujuan yang dibawa oleh lembaga pendidikan yang bersangkutan. Kecenderungan visi, misi, dan tujuan pesantren diarahkan pada proses improvisasi yang dipilih dan ditentukan sendiri oleh kyai atau bersama-sama para timnya secara intuitif. Hal ini menyebabkan rumusan dari tujuan pendidikan pesantren belum dituangkan dalam tahapan-tahapan rencana kerja yang jelas dan matang.


https://www.scribd.com/doc/258854989/kurikulum-pondok-pesantren-salapi-pdf
http://wahyudin-noor.blogspot.com/2016/12/kurikulum-pesantren-salafiyah.html

Subscribe to receive free email updates:

Kunjungi Artikel Matsan Saga Lainnya :

0 Response to "Kurikulum Pondok Pesantren Salafi dalam Pembelajaran Bahasa Arab"

Post a Comment

If this article helpful, please share it...
We are waiting for your polite comments for our good ...