Kurikulum Pondok Pesantren

Pesantren merupakan satuan pendidikan yang di dalamnya berisi pengajian kitab kuning atau dirasah islamiyah baik secara berjenjang maupun tidak berjenjang. Pesantren yang notebene nya merupakan pendidikan keagamaan, dalam penyelenggaraan atau aktivitasnya berasaskan:
  1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
  2. kebangsaan;
  3. kemandirian;
  4. pemberdayaan;
  5. kemaslahatan;
  6. multikultural;
  7. profesionalitas;
  8. akuntabilitas;
  9. keberlanjutan; dan
  10. kepastian hukum.
Sedangkan tujuan penyelenggaraan pesantren yang merupakan bagian dari Pendidikan Keagamaan adalah untuk:
  1. membentuk individu yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berilmu, mandiri, ta’awun, tawazun, dan tawasut;
  2. mendorong terbentuknya pemahaman keberagamaan yang moderat, cinta tanah air, terwujud kerukunan hidup umat beragama, serta terbentuk watak peradaban bangsa yang mencerdaskan, bermartabat, dan berkemajuan; dan
  3. ikut serta dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berdaya dalam memenuhi kebutuhan pendidikan warga negara maupun kesejahteraan sosial masyarakat pada umumnya.
Secara umum kurikulum pesantren meliputi pola pendidikan yang terdiri dari; Materi (Bidang Studi), Kitab-Kitab yang Dijadikan Referensi, Metode Pembelajaran dan Sistem Evaluasi. Kurikulum Pendidikan Diniyah formal terdiri atas kurikulum Pendidikan Keagamaan Islam dan Kurikulum Pendidikan Umum.

A. Kurikulum Pesantren Bidang Pendidikan Keagamaan Islam

Kurikulum Pendidikan Keagamaan Islam pada satuan Pendidikan Diniyah formal baik ula, wustha, dan ulya di pondok pesantren paling sedikit memuat beberapa mata pelajaran yang disesuaikan dengan tingkat pembelajarannya. Adapun mata pelajaran dalam kurikulum pondok pesantren dapat dijabarkan dalam tabel berikut ini:
Kurikulum Pesantren
Kurikulum Pesantren dalam Pendidikan Keagamaan Islam pada satuan Pendidikan Diniyah formal Ula, Wustha, dan Ulya paling sedikit memuat:
No Diniyah Ula Diniyah Wustha Diniyah Ulya
1 Al-Qur'an; Al-Qur'an; Al-Qur'an;
2 Hadits; Tafsir-Ilmu Tafsir; Tafsir-Ilmu Tafsir;
3 Tauhid; Hadist-Ilmu Hadits; Hadist-Ilmu Hadits;
4 Fiqh; Tauhid; Tauhid;
5 Akhlaq; Fiqh-Ushul Fiqh; Fiqh-Ushul Fiqh;
6 Tarikh; dan Akhlaq-Tasawuf; Akhlaq-Tasawuf;
7 Bahasa Arab. Tarikh; Tarikh;
8 Bahasa Arab; Bahasa Arab;
9 Nahwu-Sharf; Nahwu-Sharf;
10 Balaghah; dan Balaghah;
11 Ilmu Kalam. Ilmu Kalam;
12 Ilmu Arudh;
13 Ilmu Mantiq; dan
14 Ilmu Falak.

B. Kurikulum Pesantren Bidang Pendidikan Umum

Kurikulum pendidikan umum pada satuan Pendidikan Diniyah formal ula dan Pendidikan Diniyah formal wustha paling sedikit memuat:
  1. pendidikan kewarganegaraan;
  2. bahasa Indonesia;
  3. matematika; dan
  4. ilmu pengetahuan alam.

Mengutip pendapat Abdurrahman Wahid, bahwa kurikulum yang berkembang di pesantren memperlihatkan pola yang tetap. Pola tersebut dapat dilihat pada gejala sebagai berikut:
  1. Kurikulum pesantren ditujukan untuk mencetak ulama di masa mendatang
  2. Struktur kurikulum pesantren berupa pengajaran ilmu pengetahuan agama dalam segenap tingkatannya dan pemberian pendidikannya dalam bentuk bimbingan kepada santri secara langsung dari kyai/gurunya
  3. Secara universal, bahwa kurikulum pendidikan pesantren bersifat fleksibel, dalam artian setiap santri mempunyai kesempatan menyusun kurikulumnya sendiri atau sesuai dengan kebutuhannya.
Standar pokok yang menjadi tolak ukur pola kurikulum pesantren adalah materi pelajarannya yang bersifat intrakurikuler dan metode yang diterapkan pada sistem pengajaran pesantren. Dikutip dari pendapat Haidar, bahwa pola kurikulum pendidikan pesantren terdiri dari beberapa pola, diantaranya yaitu:
  • Pola Kurikulum Pembelajaran Pesantren I, materi pelajaran yang diberikan di pesantren adalah mata pelajaran yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Adapun metode penyampaiannya dengan wetonan dan sorogan, tidak memakai sistem klasikal. Santri dinilai dan diukur berdasarkan kitab yang mereka baca, mata pelajaran umum tidak diajarkan, tidak mementingkan ijazah, tetapi yang paling penting adalah pengalaman ilmu-ilmu agama yang mereka harapakan dari kajian melalui kitab-kitab klasik tersebut. Pola ini yang sering disebut pesantren salafiyah.
  • Pola Kurikulum Pembelajaran II, dalam proses belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal, dimana santri diberi materi keterampilan dan pendidikan berorganisasi serta diberi tambahan ilmu pengetahuan pada tingkat tertentu. Santri dibagi dalam beberapa jenjang pendidikannya formal dari tingkat ibtidaiyah (setara SD), tsanawiyah (setara SMP), dan ‘aliyah (setara SMA). Adapun metode pengajaran yang digunakan berupa sorogan, wetonan, hafalan dan musyawarah (batsumasa’il).
  • Pola Kurikulum Pembelajaran III, dalam pola ini materi pelajaran telah dilengkapi dengan pelajaran umum dan ditambah aneka macam pendidikan, seperti; keterampilan, olahraga, kesenian dan pendidikan berorganisasi.
  • Pola Kurikulum Pembelajaran IV, pola ini lebih menitik beratkan pada pelajaran keterampilan selain pelajaran agama. Dimana keterampilan diberikan dengan tujuan sebagai bekal kehidupan santri setelah lulus dari pesantren.
Kapasitas dari sosok Kyai kecenderungan menjadi tokoh sentral sekaligus faktor penentu dalam pengembangan kurikulum pesantren. Materi yang diajarkan di pesantren merupakan ilmu pengetahuan yang telah dikuasai oleh Sang Kyai. Pada dasarnya, prioritas utama kondisi pendidikan pesantren diorientasikan untuk beribadah kepada Allah dengan serangkaian dukungan amalan.

Sejak awal muncul hingga abad ke 19, belum ditemukan rincian materi pelajaran yang baku di pondok pesantren. Banyak studi yang menyebutkan bahwa pesantren sebagai lembaga yang bergerak dibidang pendidikan Islam di Indonesia ini pada dasarnya kurikulum independen. Sehingga kurikulum pesantren memiliki otonomi berupa kebebasan menyusun dan melaksanakan sistem pendidikan tanpa paksaan dari lembaga atau institusi lain.

Ada kemungkinan beberapa materi pelajaran (seperti Al-qur’an dengan tajwid dan tafsirnya, ‘aqaid dan ilmu kalam, fiqih dan ushul fiqih serta qawa’id al-fiqih, hadits dengan musthalah hadits, bahasa arab dengan ilmu alatnya seperti; nahwu sharaf, bayan, ma’ani, ‘arudh, dll.), tidak diajarkan secara ketat. Hal ini disebabkan karena tiap pesantren menerapkan kombinasi ilmu yang berbeda-beda dengan spesifikasi yang disesuaikan visi misi pesantren. Namun demikian, belum adanya standardisasi kurikulum juga berakibat baik dengan bertambahluasnya materi pembelajaran di pesantren dengan beberapa elemen ilmu yang tetap berkorelasi dibidang keagamaan.

1. Bidang Studi yang Diajarkan dalam Pesantren Salafiyah

Pada umumnya pembagian keahlian di lingkungan pesantren berkisar pada beberapa bidang studi, diantaranya: Nahwu-Sharaf, Fiqih, ‘Aqa’id/Tauhid, Tasawwuf/Akhlak, Tafsir, Hadits, dan lain-lain. Berikut ini deskripsi singkat mengenai bidang study yang diajarkan dalam pesantren salafiyah:
  1. Nahwu-Sharaf. Istilah ini bisa diartikan sebagai pembelajaran terhadap gramatika bahasa Arab. Pengajaran nahwu-sharaf bertujuan untuk mengasah kemampuan santri untuk membaca dan memahami kitab-kitab klasik yang sering dikenal dengan kitab kuning dengan tulisan gundul (tanpa tanda baca).
  2. Fiqih, merupakan sekumpulan hukum amaliah yang disyariatkan dalam Islam dan bersifat untuk diamalkan. Fiqih juga mengandung tentang pengetahuan hukum agama Islam lainnya.
  3. ‘Aqaid/Tauhid, bentuk pluralnya Aqidah yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan “keyakinan atau kepercayaan”. ‘Aqaid meliputi segala hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan seorang muslim.
  4. Tasawwuf, menurut Syaikhul Islam Zakaria al-Anshory, tasawwuf merupakan suatu cabang ilmu yang menerangkan tentang cara menyucikan jiwa, memperbaiki akhlak, pembinaan kesejahteraan lahir dan batin untuk mencapai kebahagiaan abadi.
  5. Tafsir, merupakan ilmu yang berisi tentang penjelasan-penjelasan ayat Al-Qur'an. Bidang inilah yang paling luas cakupannya, karena berkaitan dengan daya nilai universalitas Al-qur’an sebagai kitab suci yang mampu menjelaskan totalitas ajaran Islam.
  6. Hadits, merupakan bidang ilmu yang mempelajari tentang sunah dalam bentuk ucapan dan tindakan nabi. Sayangnya, produk pondok pesantren yang menyangkut keahlian dalam hadits jauh relatif kecil bila dibanding dengan bidang lainnya. Padahal penguasaan hadits jauh lebih penting, karena merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. (Mengutip pendapat Nurcholish Madjid).

2. Kitab-Kitab yang di Ajarkan di Pesantren Salafiyah.

Adapun kitab-kitab yang biasa diajarkan dalam lingkungan pesantren-pesantren salafiyah, antara lain:
  • Pada cabang ilmu Nahwu-Sharaf: Untuk nahwunya; al-Jurumiyah, al-Kawakib, Qatrun al-Nada, Ibnu ‘aqil, Alfiyah (nazham), dan untuk sharafnya; Kitab al-Tashrif, Syarah al-kailani, al-Maqsud (nazham), dan Imriti (nazham), dan lain-lain.
  • Pada cabang ilmu Fiqih: Syarah Sittin Masalah, Fath’u al-Qarib (al-Bajuri), fath’u al-Mu'in (I’anatu al-thalibin), al-Iqna’, fath’u al-Wahhab, ‘Uqudu al-Lujain, Muhadzab, Bugyat’u al-Mustarsyidin, dan Kifaytu al-Akhyar. Untuk kelengkapan ilmu fiqih biasanya juga dikenal ilmu ushul fiqih, diantara kitab-kitabnya: al-Mabadi al-Awwaliyyah, al-Waraqat, dan Bidayatu’u al-Mujtahid.
  • Pada cabang ilmu ‘Aqaid/Tauhid: Sifat dua puluh (arab melayu), Nuru al-Zhulam, Aqidatu al-A’waam (nazham), Kifayatu al-Awam, al-Syarqawi, Jauharu al-Tauhid, Tuhfatu al-murid, Fathu al-Majid.
  • Pada cabang ilmu Tasawwuf/Akhlak: Akhlaqu li al-Banat, Akhlaqu li al-Banin, Ta’limul al-Muta’allim, Maraqi al-Ubudiyyah, Kifayat al-Atqiya, Siraj al-Thalibin, Minhaju al-A’bidin, Nasha’ih’u al-Diniyah, Irsyadu al-‘Ibad, Tanbihu al-Ghafilin, al-Hikam, Risalatu al-Muawanah, Bidayatu al-Bidayah, dan ihya ‘ulumu al-din.
  • Pada cabang ilmu Tafsir: Tafsir al-Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Marah Labid, Tafsir al-Qurtubi, Tafsir al-Munir, Tafsir Maraghi, Tafsir al-Manar dan Jami’u al-Bayan.
  • Pada cabang ilmu Hadits: Arba’in al-Nawawiyah, Bulughu al-Maram, Riyadhu al-Shalihin, al-Azkar al-Nawawiyah, Shahih Muslim, Shahih-Bukhari, Tajridu al-Syarih, Majlishu al-saniyyah.
  • Pada cabang ilmu Balaghah: Balaghah al-wadhihah, Jauharu al-Balaghah, dan Jauharu al-Maknun.
  • Pada cabang ilmu Faraidh: Isaful haith (arab melayu), Tuhfat al-Saniyah, Syarah Matan Rahbiyah, dan lain-lain
  • Pada cabang ilmu Tarikh: Khulasah Nurul al-Yaqin, Nurul al-Yaqin, Muhammad Rasulullah, Tarihk Khulafa, dan lain-lain.

Kurikulum Pendukung Pembelajaran Pesantren

Pada dasarnya kurikulum merupakan kegiatan (proses), yaitu serangkaian pengalaman nyata yang dialami peserta belajar dengan bimbingan madrasah dan pondok pesantren. Selain pembelajaran dibidang agama dan umum, kurikulum pesantren juga didukung dengan kegiatan yang bersifat penerapan atau praktek dalam bentuk ekstrakurikuler. Bentuknya beragam dan setiap pesantren memiliki karakteristik yang berbeda. Beberapa pesantren menerapkan ekstrakurikuler dalam bentuk kesenian seperti berpidato dan musik islami.
Program ekstra kurikuler merupakan kegiatan belajar yang dilakukan di luar jam pelajaran dan dilaksanakan di lingkungan madrasah dengan tujuan untuk lebih memperluas wawasan atau kemampuan, peningkatan, penerapan nilai pengetahuan serta kemampuan yang telah dipelajari dari berbagai mata pelajaran.
Ada juga beberapa kegiatan yang dilakukan secara rutin dengan tujuan untuk membentuk karakter santri dan membiasakan diri melakukan aktivitas bermanfaat. Ini biasanya disebut dengan kurikulum tersembunyi.
Kurikulum tersembunyi adalah segala kegiatan atau aktivitas yang tidak berstruktur atau tidak dirancang dalam kurikulum, yang berlaku ditempat pertemuan pelajar.
Bentuk kegiatan yang mencerminkan kurikulum tersembunyi adalah kerja bakti membersihkan lingkungan pondok yang dilakukan secara teratur (setiap minggu). Penerapan sanksi bagi yang pelanggar peraturan pondok juga merupakan bentuk aplikasi kurikulum tersembunyi pesantren.

Kesimpulan

Pada dasarnya kurikulum merupakan kegiatan (proses), yaitu serangkaian pengalaman nyata yang dialami peserta belajar dengan bimbingan madrasah dan pondok pesantren. Kurikulum pesantren menerapkan pembelajaran bidan agama dan umum dengan kadar yang ditentukan oleh Kiyai sebagai pengelola pondok.


Demikian posting artikel tentang Kurikulum Pesantren yang diolah dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat...

Subscribe to receive free email updates:

Kunjungi Artikel Matsan Saga Lainnya :

0 Response to "Kurikulum Pondok Pesantren"

Post a Comment

If this article helpful, please share it...
We are waiting for your polite comments for our good ...